Saat berkendara, jari enaknya nyentuh atau tidak


Gaya berkendara setiap orang pasti berbeda-beda, untuk mendapatkan feel yang pas dan respon yang tepat ketika dibutuhkan.





Soal menyentuh atau tidak, adalah soal perlakuan terhadap handle rem, jadi jangan mikir kemana-mana yaa, :).





Mungkin anda pernah mendapat anjuran agar jari tangan tidak menempel di handle rem ketika berkendara karena bisa berbahaya.





Dan beberapa sumber membandingkannya dengan pembalap motogp. rasanya agak kurang pas saja kalau standarisasi berkendara sehari-hari di bandingkan dengan standart operasional prosedur pembalap.





kalau pembalap motogp, memang mereka tidak menempelkan jarinya terus menerus di handel rem karena mereka tau kapan harus mengerem dan kapan gas poll. Ada titik pengereman yang sudah pasti. Misalnya 100 meter sebelum tikungan.





Gak mungkin pembalap tiba-tiba mengerem di tengah lintasan lurus. Jadi pas keluar tikungan menuju jalur lurus maka pembalap akan membetot gas dan melepaskan jemari dari handle rem.





Sementara kita kalau berkendara dijalanan umum, harus siap sewaktu waktu jika harus mengerem mendadak. Entah karena macet atau ada yang tiba-tiba belok atau ada yang tiba-tiba gamang, ntah mau kemana (pernah gak sih ketemu rider yang seperti ini dijalan?).





Karena jemari sudah stanby di handle rem, jadi tekanan pengereman yang diberikan bisa terukur dan akurat disaat mendadak.





Jadi anjuran untuk tidak menempelkan jemari di tuas rem, rasanya kurang pas untuk diterapkan di jalan raya dalam kondisi tertentu.





Mungkin perlu dijelaskan juga situasi dan kondisinya. Kapan sebaiknya tidak menempelkan jari di handel rem dan ceritakan juga jenis kendaraan yang digunakan.





Misalnya saat Turing jarak jauh, saat naik motor Matic, Bebek atau Sport.





Mungkin kalau pas touring antar kota yang jalan lintas propinsinya cukup lengang, bebas dari lalu lalang kendaraan dan hewan, maka menempelkan jari di tuas rem sangat tidak dianjurkan dan kurang efisien serta mengurangi kemampuan handling karena cengkraman berkurang.





Begitu juga dengan jenis motor yang digunakan, kalau kebetulan pas naik motor bebek, tanpa perlu menempelkan jari di rem pun, kita tetap bisa siap siaga mengerem karena kaki kanan tetap standby di tuas rem belakang, yaa gak?





Begitu juga dengan motor sport / motor kopling, jari bisa saja tidak menempel di tuas rem depan karena rem belakang tetap siap di operasikan dari kaki kanan. Tapi jari tangan kiri biasanya tetap menempel di handel kopling.





Tapi kalau motor matic, akan tetap standby menempelkan jari di tuas rem agar siap mengerem dengan akurat saat di perlukan, khususnya dijalan raya yang padat.





Namun perlu jadi catatan ketika berkendara dengan posisi jari menempel di tuas rem dapat berdampak pada hal teknis dan non teknis seperti; Ketika jari menempel di tuas rem, mungkin tanpa sadar kita mengaktifkan stop lamp sehingga membuat bingung pengendara di belakang. Selain itu, dengan jari menempel di tuas rem, mungkin juga kampas rem sedikit tertekan dan menempel ke cakram/tromol sehingga bergesekan yang akhirnya membuat kampas cepat habis.





Kalau dipikir-pikir, apa sebenarnya alasan orang menempelkan satu atau dua jari di handle rem saat berkendara.





Alasan pertama mungkin adalah karena berupaya untuk tetap siaga, agar sewaktu-waktu butuh pengereman, jemari sudah siap. Sama kalau misalnya kita akan memukul bola kasti dengan Stick pemukul. Mana kira-kira yang lebih cepat dan akurat, orang yang menyentuh stick atau yang lepas tangan





Saat menempelkan jari dituas rem, kita sudah tau posisi jari kita apakah berada di jarak bebas atau sudah menekan tuas rem.





Seperti kita tau kalau tuas tem itu ada jarak bebasnya bebetapa mili, ya kan?. Jadi pada jarak bebas/jarak main tersebut kampas rem belum bergerak.





Nah, ketika dibutuhkan pengeremam mendadak, kita audah siap melakukan penekanan terhadap tuas rem sesuai kebutuhan.





Lain hal ketika kita melepas handle rem dan memegang grip sepenuhnya. Maka ketika membutuhkan pengereman mendadak, agak gagap mungkin yaa, khususnya untuk akurasi besaran tekanan yang diperlukan untuk melakukan pengereman.





bisa-bisa malah terlalu besar dan berakhir nyungsep karena kaget.





Kalau di balapan seperti moto gp, kondisinya bebas gangguan, jelas dan ideal, kapan gas pol dan kapan rem pol. Jarang sekali motor motogp itu ngerem setengah, jadi pas waktunya ngerem, benar-benar rem poll, Sampai jungkit-jungkit dan ngepot-ngepot. Kalau ngegas pun langsung gas poll, sampai jengat-jengat. Jarang ada yang gas setengah. Jarang juga kondisi ngerem setengah-setengah seperti kalau kita berkendara di jalan raya, yaa gak..?





Tapi sekali lagi ini tentang riding style, tidak bisa di generalisir dan di standarisasi. Ada yang suka menyandarkan jarinya di tuas rem dan ada juga yang enggan.





Tapi kalau menurut saya yaa, kalau pas di dalam kota yang lalu lintasnya padat, kayaknya lebih nyaman kalau jari menempel di tuas rem karena memang kondisi trafik memaksa kita untuk sering ngerem (ngerem setengah, ngerem seperempat, ngerem poll) karena harus stop n go dan kadang bertemu hal-hal yang tak terduga, seperti hewan nyebrang atau tiba-tiba seklebatan terlihat wajah mantan yang melintas.





Tapi kalau jalan jarak jauh, antar kota, lintas propinsi, mungkin lebih nyaman jika jemari mencengkram grip sepenuhnya biar pengendalian lebih mantap.





Ini hanya opini pribadi, bukan berdasarkan survey ataupun penelitian dari ahli yang di simpulkan kedalam karya ilmiah. Hanya pandangan pribadi saja, mungkin anda punya pandangan lain, bolehlah berbagi dikolom komentar.


Related Posts

Subscribe Our Newsletter